
Harimau Mandailing, Kuat dan Beradat
Harimau dalam pandangan masyarakat Mandailing Natal adalah hewan yang beradat, memiliki aturan hidup tertentu dalam berhubungan dengan masyarakat sekitar habitatnya. Hewan penguasa hutan yang bisa menjelajahi 15 - 30 km dalam semalam untuk mencari mangsa ini memiliki banyak julukan di hati masyarakat Mandailing Natal. Makna sebutan untuk si raja hutan inipun tidak ada yang merendahkan, tetapi sebaliknya memiliki arti untuk mengagumi atau menghormati.
Hewan bertenaga luar biasa ini dinamai ‘ Na Betengi ‘ atau ‘ Yang Kuat’ . Zaman dahulu ketika kehidupan para leluhur Mandailing masih jauh dari peradaban moderen seperti sekarang. Mereka telah menyimpulkan bahwa tidak ada hewan yang paling kuat dan berkuasa di tengah hutan selain harimau. Dalam bahasa Mandailing ‘Na Betengi’ dalam konteks kehidupan sosial masyarakat lebih dimaknai pada kekuasaan yang dimiliki seseorang. Disamping itu kata ini juga bermakna tenaga yang kuat. Sehingga gelar ini terasa pantas diberikan untuk harimau. Berdasarkan penelitian para ilmuwan masa sekarang, daerah jelajah hewan ini bisa mencapai angka 500 km.
Julukan yang kedua, ‘Na Maradati’ atau ‘Yang Beradat’. Maksudnya, hewan ini memiliki aturan atau adat kapan dia harus memperlihatkan diri kepada manusia, dan kapan harus berada di hutan belantara. Keluarnya harimau dari sarangnya untuk muncul di pinggir perkampungan atau pada perladangan penduduk adalah indikator adanya orang yang berzina. Selama sipelaku belum ditangkap atau ditegur oleh masyarakat, maka sang raja hutan ini akan tetap memunculkan diri.
Sesungguhnya tabiat harimau tidaklah sembarangan menyerang orang. Sangat jarang terdengar di seantero Mandailing Natal, orang yang mati diterkam harimau. Padahal hampir semua penduduk pedesaan didaerah ini keluar masuk hutan setiap hari. Hal ini mungkin terkait juga nasehat orangtua sejak dini, agar tidak takut terhadap harimau ketika berjumpa di hutan. Ketika sudah saling berhadap-hadapan, jangan memalingkan muka dan lari. Tapi berjalanlah seperti biasa, sambil bergumam “ Ompung, au bolus jolo ( kakek, mohon lewat ) “ sambil menyebutkan keperluan kita disitu. Sang raja hutan inipun akan diam saja sambil mengibas-ngibaskan ekornya, pertanda kita dibolehkan lewat di tempat itu.
Sebutan lain adalah ‘Ompung’ atau ‘kakek ‘. Dalam kaidah bahasa Mandailing, kata ompung biasanya ditujukan kepada orang yang sudah lanjut usia. Namun bisa juga dialamatkan pada seseorang yang memiliki kematangan berfikir, sehingga diangkat sebagai pemimpin ( orang yang dituakan ).—misalkan pada sebuah organisasi kepemudaan—.
Julukan ini sedikit sulit dijelaskan. Tetapi sedikit gambaran, ditanah Mandailing Natal jarang ditemukan harimau mati ditengah hutan yang dilalui masyarakat. Sepertinya hewan ini tidak meninggalkan bekas apabila mati, seperti hilang ditelan bumi. Atau bisa jadi hewan liar ini mati ditengah hutan belantara yang tidak pernah dilalui masyarakat.
Besar kemungkinan hewan berbelang ini mendapatkan julukan ompung adalah karena hewan ini dituakan atau dengan kata lain dianggap sebagai pemimpin hewan-hewan lainnya. Ataupun bisa juga karena harimau ditempat ini rata-rata berusia lanjut, disebabakan tidak ada yang memburu, dan hanya mati karena dimakan usia. Berdasarkan penelitian para ahli hewan, usia harimau yang berada di penangkaran kebun binatang bisa mencapai 20-30 tahun. Dengan siklus melahirkan kira-kira dua tahun sekali, dengan jumlah anak mencapai tujuh ekor, walaupun yang selamat biasanya empat sampai
